Ada banyak cinta,
Yang terpendam dalam diam.
Terkekang tak bisa berjalan,
Kemudian, membias dikeramaian.
Dari sekian banyak hati.
Nyamanku denganmu,
Meski jadi terbiasa tersakiti.
Mauku dirimu.
Namun kini,
Rasanya cukup.
Ragaku sudah tertatih,
Mencoba menggapai harap yang malah meratap.
Menolak.
Nyatanya aku rapuh,
Aku tidak sekuat itu.
Lebih baik menutup pintu,
Meninggalkan kenangan-kenangan pilu.
Lalu kemudian membuka pintu baru.
Terimakasih kamu,
Mengenalkan aku rasanya patah sepatah-patahnya patah.