Entah mengapa,
Sekarang aku senang bermain kata.
Menyusun huruf yang tak hingga.
Menyirat rasa penuh makna.
Karena mungkin dengan deretan kata,
Aku bisa menjadi aku.
Langit malam ini begitu gelap.
Tak satupun bintang bisa kulihat.
Tertutup awan pekat.
Padahal, aku sangat suka melihat bintang.
Melihat bintang,
Jadi salah satu alasanku suka mendaki gunung.
Sesampainya dipuncak, lalu malam menyapa.
Ah, rasanya seperti dekat sekali denganNya.
Sepinya suasana.
Yang terdengar hanya semilir angin sepoi,
Menelisik telinga kemudian bergesekan dengan dedaunan.
Dan, kerlip bintang dihadapan mata, begitu jelas.
Jadi rindu suasana itu.
Bicara tentang rindu,
Identik dengan sendu.
Bagaimana tidak,
Dari sekian banyak rindu hanya sedikit yang bertemu.
Sementara, rindu-rindu lainnya berujung sendu yang urung berlalu.
Aku rindu menjadi aku.
Memerankan orang dewasa ternyata tidak semenarik itu ya.
Aku rindu menjadi aku.
Saat ini kalian tidak melihat aku.
Aku sedang bersembunyi dalam kata.
Menghilang dari pandang mata,
Membias dengan sengaja,
Memainkan peran pura-pura,
Untuk bisa diterima.
Aku rindu menjadi aku.
Sungguh.
0 komentar:
Posting Komentar