Sabtu, 30 Mei 2020
Sabtu, 18 April 2020
Lima Bulan
Senin, 11 November 2019
Kembali
senja sore tadi begitu indah.
lihat itu, gambar itu aku ambil sore tadi.
saat aku bersamamu di tempat yang sama,
namun, tak saling menyapa.
aku pikir ini pertanda,
jika aku, kamu dan kita memang harus saling melupa.
hmm... tepatnya aku saja.
iya, aku saja yang melupa, karena toh memang selama ini tidak ada aku di kamu.
aku kira kamu rumah,
ternyata bukan.
jelas ini salahku.
kembali, harus aku lagi yang menyalahkan aku.
Segala ke-aku-an ku ternyata harus kalah,
dengan, segala ego mu.
tuntas,
aku kira ini selesai.
betapapun sulit untuk...
iya, untuk perlahan melupakan.
setelah sekian lama, kembali aku bertemu dengan perpisahan.
namun, kali ini berbeda.
aku harus berpisah dengan perasaanku sendiri.
tapi, sempatkan aku mengutarakan.
janjiku padaku adalah untuk selalu mengungkap.
tidak ada kebohongan antara aku dan diriku.
perihal bagaimana hatimu, setidaknya aku sudah mengungkap.
aku tidak mengharap,
hanya ingin mengucap.
melunasi janjiku pada diriku.
Selasa, 29 Oktober 2019
Terperangkap dalam dekap
Senin, 20 Mei 2019
Tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan
Beberapa hari ini ada saja masalah yang hadir,
Harus kuat.
Karena, ya, ini adalah bagian dari ujian yang diberikanNya.
Tapi, Allah udah berjanji kalau gak akan menguji hambanya melewati batas kemampuannya.
Sifat manusia itu berbeda,
Harusnya aku, kamu dan kita bisa lebih bijak dalam mengambil sikap dan berucap.
Oiya, jangan menjadi orang yang mudah untuk menyimpulkan.
Karena lebih sering kesimpulan yang kita buat (apalagi) mengenai pribadi seseorang itu selalu benar,
Misalnya, si junaedi itu aktif berorganisasi di kampus.
Dia ikut organisasi A, B, C dan lain sebagainya.
Karena itu dia di cap sebagai seorang aktivis.
Ya, kebanyakan orang awam akan menganggap seorang yang aktif di organisasi kampus sebagai aktivis.
Berbeda dengan seorang yang aktif di ikut lomba di bidang ke akademikan, capnya bukan aktivis tapi lebih sering sebagai anak yang berprestasi.
Karena apa? Karena dia berprestasi. Dia di akui.
In my opinion, pengakuan memang saat sini selalu di utamakan. Kalau sudah di akui ya mau apa lagi? Pengakuan menandakan dia bisa, tapi sayangnya aku tidak memandang sesuatu hal hanya berdasar pengakuan saja. Aku lebih melihat dari sudut pandang proses, bagaimana prosesnya yang bisa membentuknya.
Namun, bagi kalian yang membaca ini aku sarankan untuk jangan hanya menyimpulkan seperti itu saja.
Tidak semua mahasiswa yang aktif dalam organisasi kampus itu seorang aktivis (yang saya maksud disini aktivis yang selalu mengkritik sana sini, teriak-teriak, demo dan segala hal negatif lainnya) banyak juga mahasiswa yang aktif di organisasi memang untuk meningkatkan kualitas dirinya, pengalaman, skill dan menambah jaringan pertemanan juga lebih peduli terhadap sesama dan bermanfaat bagi sekitar.
Tapi, masih saja banyak yang beranggapan kalau masuk organisasi kampus auto jadi aktivis kampus apalagi organisasi eksekutif mahasiswa.
Terlalu cetek pemikiran sampah seperti itu, pikiran yang sangat mudah untuk men-generalisir sesuatu.
Tapi sampai saat ini tetap masih saja ada.
Seorang yang jika dari bicaranya luar biasa sempurna juga mengesankan mata, namun sangat tidak bijak dalam berucap dan bersikap.
Memang, kalimat bijak yang mengatakan
Tua itu pasti namun dewasa belum pasti itu benar adanya.
Pengalaman hidup dan interaksi sosial yang andil banyak untuk membentuk pribadi seseorang akan seperti apa.
Ditulis dengan suara hati yang sedikit kesal dan geram.
Sabtu, 11 Mei 2019
Belajar berbagi dari hati
Alhamdulilah bisa kembali bertemu dengan ramadan tahun ini.
Tahun kedua ramadan tidak bersama mama, bapak, mba, dan adikku.
Terasa berbeda pasti, namun harus tetap dijalani.
Tahun kedua ramadan disini sudah cukup beradaptasi.
Dari mulai harus membiasakan harus bangun sahur sendiri, sampai menyiapkan buka puasa pun harus mandiri.
Ya namanya juga merantau, tujuanku kesini pun untuk bisa jadi lebih mandiri.
Bagian dari perjuangan.
Suasana ramadan disini begitu khusyuk, tenang dan nyaman.
Setiap sore, boulevard depan kampus bak pasar dadakan.
Tempat favorit mahasiswa kampusku untuk berburu
Banyak hidangan berbuka yang disajikan dan banyak pilihan.
Ada juga masjid kampus yang sangat dermawan,
Hampir setiap hari selama ramadan menyiapkan hidangan berbuka puasa gratis bagi jamaah yang ikut kajian.
Sudah mendapat ilmu, perut pun ikut kenyang, daaann yang terpenting gratisss. Hehee
Satu ketika ada satu momen dihidupku yang cukup terpatri di memoriku.
Sore itu, menjelang waktu berbuka puasa aku mengikuti kajian di masjid kampus.
Selesai kajian hidangan buka puasa siap disajikan.
Adzan berkumandang, semuanya langsung makan sajian yang dihidangkan.
Setelah selesai makan, semua bersiap ambil wudhu untuk shalat maghrib berjamaah.
Aku melihat seorang ibu dan anaknya membawa plastik yang isinya botol plastik.
Sering aku melihatnya mencari botol plastik bekas di pagi hari,
Dan, ya, sepertinya saat itu ia baru selesai mencari plastik bekas.
Betapa kerasnya mereka mencari rizkimu yaAllah.
Sangat iba melihatnya,
Dimana ada yang tetap berjuang keras untuk bisa bertahan.
Terkadang aku ingin rasanya menyalahi diriku sendiri yang belum bisa membantu mereka.
Aku bingung ingin menyalahkan apa yang salah atau siapa yang salah dalam hal seperti ini.
Apakah ini tanggung jawab negara yang tak becus mengurusi rakyatnya hingga ketimpangan ekonomi sosial di masyarakat begitu curam,
Atau individu masyarakat yang tak peka terhdap sekitar, enggan menengok kanan kiri yang kesusahan untuk saling berbagi,
Atau ini salah Tuhan?
Tapi tidak, Tuhan selalu ada bagi mereka yang kesusahan dan tak pernah dan tak akan pernah menguji ummatnya sampai melewati batas kemampuan.
Ia datang untuk menolong siapapun yang membutuhkannya.
Ia tau, ibu dan anaknya itu sedang membutuhkannya lalu kemudia ia datang.
Iya,
Ia datang.
Namun dengan bantuan malaikat-malaikatnya.
Tak lama setelah aku melihat ibu dan anaknya itu ada seorang yang memberikan 2 bungkus nasi box kepada mereka.
Semenit kemudian seseorang memberikan dua gelas teh tarik lalu diberikannya.
Tangan Tuhan akan selalu ada dimanapun saat hambanya membutuhkan.
Percaya dan yakinlah.
Pertolongan-Nya akan selalu ada.
Selasa, 26 Maret 2019
Bercakap tanpa berucap
Sudah pagi.
04.01 WIB saat aku sedang menulis huruf demi huruf ini.
Baru saja hendak terpejam, aku kembali teringat situasi tadi.
Saat kita bertemu, saling berbagi tawa namun tak hanya berdua.
Iya, aku kembali bertemu denganmu lagi.
Ketidaksengajaan yang disengaja.
Kembali ikut di satu organisasi yang sama,
Sama saja mengulang kenangan dengan sengaja.
Resiko.
Siang tadi, selesai kelas aku lupa jika harus ada rapat.
Pelajaran selesai, kelas dibuka, yap. Langsung cabut balik kos.
Namun apadaya, temanku mengingatkan ku kalau siang ini ada rapat.
Yap, akhirnya balik badan, grak!
Ya, salahku juga sih.
Entah mengapa sejak saat itu aku sekarang jadi mudah lupa akan hal-hal kecil.
Semoga saja hanya sementara, kemudian bisa kembali seperti biasa.
Satu jam rapat,
Dua jam ikut seminar yang tidak diduga.
Alhamdulillah, dapet makan siang cuma-cuma.
Namun yang terpenting aku mendapat banyak sekali pelajaran siang itu.
Mulai dari kesadaran mengenai pentingnya data pribadi hingga cara menangkal hoax.
Woah!
Selesai seminar dan rapat dadakan.
Aku kembali bertemu hal yang tak jua berlalu.
Kenangan itu. Yang terkuak kembali setiap aku melihatmu.
Mungkin ia tak merasakan kenangan itu, tapi aku merasa.
Aku rasa semua tentangmu dahulu bisa dijadikan arsip memori dikepalaku yang urubg berlalu.
Aku dan kamu bertemu tadi, ingat? Atau pura-pura tidak ingat?
Kita berbagi tawa namun bukan berdua, melainkan bersama-sama.
Aku rindu,
Rindu mendengar suara tawamu.
Aku rindu,
Rindu berbicara denganmu tanpa ragu.
Aku rindu,
Rindu akan semua kerinduanku tentangmu.
Oh iya, ngomong-ngomong aku sepertinya tidak melihat kamu yang benar-benar kamu tadi sore.
Tadi itu bukan kamu yang aku kenal.
Tawamu bukan begitu, lekukan senyummu masih kurang sepersekian°.
Karena aku hafal betul.
Semoga kamu sedang baik-baik saja.
