Sabtu, 11 Mei 2019

Belajar berbagi dari hati

Alhamdulilah bisa kembali bertemu dengan ramadan tahun ini.
Tahun kedua ramadan tidak bersama mama, bapak, mba, dan adikku.
Terasa berbeda pasti, namun harus tetap dijalani.

Tahun kedua ramadan disini sudah cukup beradaptasi.
Dari mulai harus membiasakan harus bangun sahur sendiri, sampai menyiapkan buka puasa pun harus mandiri.
Ya namanya juga merantau, tujuanku kesini pun untuk bisa jadi lebih mandiri.
Bagian dari perjuangan.

Suasana ramadan disini begitu khusyuk, tenang dan nyaman.
Setiap sore, boulevard depan kampus bak pasar dadakan.
Tempat favorit mahasiswa kampusku untuk berburu
Banyak hidangan berbuka yang disajikan dan banyak pilihan.

Ada juga masjid kampus yang sangat dermawan,
Hampir setiap hari selama ramadan menyiapkan hidangan berbuka puasa gratis bagi jamaah yang ikut kajian.
Sudah mendapat ilmu, perut pun ikut kenyang, daaann yang terpenting gratisss. Hehee

Satu ketika ada satu momen dihidupku yang cukup terpatri di memoriku.
Sore itu, menjelang waktu berbuka puasa aku mengikuti kajian di masjid kampus.
Selesai kajian hidangan buka puasa siap disajikan.

Adzan berkumandang, semuanya langsung makan sajian yang dihidangkan.
Setelah selesai makan, semua bersiap ambil wudhu untuk shalat maghrib berjamaah.
Aku melihat seorang ibu dan anaknya membawa plastik yang isinya botol plastik.
Sering aku melihatnya mencari botol plastik bekas di pagi hari,

Dan, ya, sepertinya saat itu ia baru selesai mencari plastik bekas.
Betapa kerasnya mereka mencari rizkimu yaAllah.

Sangat iba melihatnya,
Dimana ada yang tetap berjuang keras untuk bisa bertahan.
Terkadang aku ingin rasanya menyalahi diriku sendiri yang belum bisa membantu mereka.
Aku bingung ingin menyalahkan apa yang salah atau siapa yang salah dalam hal seperti ini.

Apakah ini tanggung jawab negara yang tak becus mengurusi rakyatnya hingga ketimpangan ekonomi sosial di masyarakat begitu curam,
Atau individu masyarakat yang tak peka terhdap sekitar, enggan menengok kanan kiri yang kesusahan untuk saling berbagi,

Atau ini salah Tuhan?

Tapi tidak, Tuhan selalu ada bagi mereka yang kesusahan dan tak pernah dan tak akan pernah menguji ummatnya sampai melewati batas kemampuan.
Ia datang untuk menolong siapapun yang membutuhkannya.
Ia tau, ibu dan anaknya itu sedang membutuhkannya lalu kemudia ia datang.

Iya,
Ia datang.
Namun dengan bantuan malaikat-malaikatnya.
Tak lama setelah aku melihat ibu dan anaknya itu ada seorang yang memberikan 2 bungkus nasi box kepada mereka.
Semenit kemudian seseorang memberikan dua gelas teh tarik lalu diberikannya.

Tangan Tuhan akan selalu ada dimanapun saat hambanya membutuhkan.
Percaya dan yakinlah.
Pertolongan-Nya akan selalu ada.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar