Kalau tidak salah,
Februari itu, menjadi awal aku jumpa dengan dia.
Terkesima dengan pembawaannya yang begitu sederhana, Hijab biasa yang ketika dipakainya menjadi nampak berbeda.
Manis senyumnya bak gulali favoritku di pasar malam pinggir kota.
Barisan kata hiperbola tak cukup rasanya, untuk mendefinisikan dia.
Aku.
Aku yang sempat enggan untuk membuka pintu hati, kembali.
Namun ia datang, yang dalam diamnya saja membuat aku terkagum.
Ini masalah hati, perasaan, cinta dan kroni-kroninya.
Diam tak berucap aku kuat, namun hati tak bisa diam dan terus beranjak.
Makin kesini semakin berontak, sebab mungkin hati ini.
Merasa,
Merasa telah menemukan bagian lain dirinya.
Berbulan bersama, hampir gila senang dibuatnya.
Bagaimana tidak.
Meskipun (masih) dalam diam, setidaknya masa itu aku begitu dekat dengannya.
Sedekat berhadapan di satu meja makan.
Meskipun tidak makan berdua, dinner seperti orang-orang itu.
Tiba di satu waktu, dimana jadi masa yang paling aku tidak suka semasa 2 dekade hidupku berjalan ini.
Tiba-tiba saja, aku dengannya.
Yang sebelumnya sedekat berhadapan di satu meja, kini.
Sekedar menyapa saja tak pernah.
Ajaib bukan?
Aku pun tak tahu mengapa, mungkin aku yang salah.
Sempat membuatnya kecewa yang teramat sangat.
Atau mungkin,
Ya memang ini skenarionya.
Ia hanya ingin menjadi pelangi sehabis hujan tiba,
Indah, namun terlalu singkat.
Atau,
Ia layaknya bintang.
Yang begitu benderang, namun terlalu sulit tuk digapai.
Aku terlalu takut untuk mengungkap,
Atau ia yang sama sekali tak berharap?
Ada benarnya juga yang dibilang ust. Fachrudin Faiz. "Kita tak takut mencintai, yang kita takuti adalah tidak dicintai balik".
Kini.
Aku berhenti sejenak,
Membiarkanmu berjalan didepanku beberapa langkah.
Tidak berdampingan.
Sepertinya kamu akan jadi satu kisah tersendiri di hidupku.
Kusimpan baik di dalam memoriku dengan kotak memori yang kuhias sebegitunya dalam ingatanku.
Terimakasih,
Pada rasa yang begitu hebat,
Namun tak sempat terucap.
0 komentar:
Posting Komentar