Kamis, 31 Januari 2019

Terimakasih, semesta.

Pertemuan.
Suatu kejadian yang berujung kesedihan.

Perpisahan.
Hal yang dibenci dari setiap pertemuan.

Menjauh.
Yang sedang kamu lakukan, sekarang.

Banyak rasa diatas sana,
Terbang bersama asa, harapan dan impian.
Menunggu saling dipertemukan.

Aku, kamu dan cinta.
Tiga kata, ada berbagai makna.

Aku, segala ke-akuanku luluh padamu.
Melebur bersama cerita indah masa itu.
Jelas, tanpa tanya aku mencintamu,
Begitu.

kamu, hampir setiap malam mampir di anganku ketika hendak memejamkan mata.
Berharap kita dipertemukan di mimpi malam.
Kemudian dibangunkan oleh kenyataan.

Cinta, sulit untuk menyusunnya menjadi kata.
Karena memang, perihal rasa itu tidak biasa.
Aku tidak ingin mencintaimu selamanya, sebab, selamanya hanya sementara. (Elegi renjana, by stefani bella).

Terimakasih kepada pertemuan,
Sebab karenamu aku bisa mengenalnya.
Menyadari ada malaikat tanpa sayap.

Terimakasih kepada perpisahan,
Sebab karenamu aku bisa tau rasanya kehilangan.
Yang begitu dalam.

Terimakasih kepada aku, kamu dan cinta.
Sebab karenamu aku tau rasanya rasa tak dibalas oleh rasa.

Terimakasih, semesta.

Share:

Kotak memori

Kalau tidak salah,
Februari itu, menjadi awal aku jumpa dengan dia.

Terkesima dengan pembawaannya yang begitu sederhana, Hijab biasa yang ketika dipakainya menjadi nampak berbeda.
Manis senyumnya bak gulali favoritku di pasar malam pinggir kota.
Barisan kata hiperbola tak cukup rasanya, untuk mendefinisikan dia.

Aku.
Aku yang sempat enggan untuk membuka pintu hati, kembali.
Namun ia datang, yang dalam diamnya saja membuat aku terkagum.
Ini masalah hati, perasaan, cinta dan kroni-kroninya.

Diam tak berucap aku kuat, namun hati tak bisa diam dan terus beranjak.
Makin kesini semakin berontak, sebab mungkin hati ini.
Merasa,
Merasa telah menemukan bagian lain dirinya.

Berbulan bersama, hampir gila senang dibuatnya.
Bagaimana tidak.
Meskipun (masih) dalam diam, setidaknya masa itu aku begitu dekat dengannya.
Sedekat berhadapan di satu meja makan.
Meskipun tidak makan berdua, dinner seperti orang-orang itu.

Tiba di satu waktu, dimana jadi masa yang paling aku tidak suka semasa 2 dekade hidupku berjalan ini.
Tiba-tiba saja, aku dengannya.
Yang sebelumnya sedekat berhadapan di satu meja, kini.
Sekedar menyapa saja tak pernah.

Ajaib bukan?
Aku pun tak tahu mengapa, mungkin aku yang salah.
Sempat membuatnya kecewa yang teramat sangat.
Atau mungkin,
Ya memang ini skenarionya.

Ia hanya ingin menjadi pelangi sehabis hujan tiba,
Indah, namun terlalu singkat.
Atau,
Ia layaknya bintang.
Yang begitu benderang, namun terlalu sulit tuk digapai.

Aku terlalu takut untuk mengungkap,
Atau ia yang sama sekali tak berharap?

Ada benarnya juga yang dibilang ust. Fachrudin Faiz. "Kita tak takut mencintai, yang kita takuti adalah tidak dicintai balik".

Kini.

Aku berhenti sejenak,
Membiarkanmu berjalan didepanku beberapa langkah.
Tidak berdampingan.

Sepertinya kamu akan jadi satu kisah tersendiri di hidupku.
Kusimpan baik di dalam memoriku dengan kotak memori yang kuhias sebegitunya dalam ingatanku.

Terimakasih,
Pada rasa yang begitu hebat,
Namun tak sempat terucap.

Share:

Aku yang bukan Aku

Entah mengapa,
Sekarang aku senang bermain kata.
Menyusun huruf yang tak hingga.
Menyirat rasa penuh makna.

Karena mungkin dengan deretan kata,
Aku bisa menjadi aku.

Langit malam ini begitu gelap.
Tak satupun bintang bisa kulihat.
Tertutup awan pekat.
Padahal, aku sangat suka melihat bintang.

Melihat bintang,
Jadi salah satu alasanku suka mendaki gunung.
Sesampainya dipuncak, lalu malam menyapa.
Ah, rasanya seperti dekat sekali denganNya.

Sepinya suasana.
Yang terdengar hanya semilir angin sepoi,
Menelisik telinga kemudian bergesekan dengan dedaunan.
Dan, kerlip bintang dihadapan mata, begitu jelas.

Jadi rindu suasana itu.

Bicara tentang rindu,
Identik dengan sendu.
Bagaimana tidak,
Dari sekian banyak rindu hanya sedikit yang bertemu.
Sementara, rindu-rindu lainnya berujung sendu yang urung berlalu.

Aku rindu menjadi aku.
Memerankan orang dewasa ternyata tidak semenarik itu ya.

Aku rindu menjadi aku.
Saat ini kalian tidak melihat aku.

Aku sedang bersembunyi dalam kata.
Menghilang dari pandang mata,
Membias dengan sengaja,
Memainkan peran pura-pura,
Untuk bisa diterima.

Aku rindu menjadi aku.
Sungguh.

Share: