Senin, 11 November 2019

Kembali


senja sore tadi begitu indah.
lihat itu, gambar itu aku ambil sore tadi.
saat aku bersamamu di tempat yang sama,
namun, tak saling menyapa.

aku pikir ini pertanda,
jika aku, kamu dan kita memang harus saling melupa.
hmm... tepatnya aku saja.
iya, aku saja yang melupa, karena toh memang selama ini tidak ada aku di kamu.

aku kira kamu rumah,
ternyata bukan.
jelas ini salahku.
kembali, harus aku lagi yang menyalahkan aku.

Segala ke-aku-an ku ternyata harus kalah,
dengan, segala ego mu.
tuntas,
aku kira ini selesai.

betapapun sulit untuk...
iya, untuk perlahan melupakan.

setelah sekian lama, kembali aku bertemu dengan perpisahan.
namun, kali ini berbeda.
aku harus berpisah dengan perasaanku sendiri.

tapi, sempatkan aku mengutarakan.
janjiku padaku adalah untuk selalu mengungkap.
tidak ada kebohongan antara aku dan diriku.
perihal bagaimana hatimu, setidaknya aku sudah mengungkap.

aku tidak mengharap,
hanya ingin mengucap.
melunasi janjiku pada diriku.
Share:

Selasa, 29 Oktober 2019

Terperangkap dalam dekap

Kamu tau,
Aku,
Iya.
Aku.

Aku, masih mengagumimu sama seperti detik pertama kita bertemu.
Saat segala sekat ego ke-aku-an ku belum setebal ini.
Saat segala asa masih dijaga seperti sedia.

Kamu,
Tetaplah menjadi kamu.
Biarkan aku tetap menetap seperti ini.
Diambang pilu antara ada dan meniada.
Meskipun kamu perlihatkan dan bahkan menuntunku untuk menyerah, aku akan tetap menetap tetap.

Aku tau kamu tau,
Hanya,
Seolah-olah kamu tak tau. Tak mau tau.
Tak peduli. Temanku berkata, yang seperti itu masih kamu agungkan? Yang seperti itu pantaskah tetap mendapat senyuman? Memangnya apa balasan yang kau dapat selain kosong dan hampa?

Satu tetes air mata luruh, bukan di pipi. Namun, di hati.
Share:

Senin, 20 Mei 2019

Tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan

Beberapa hari ini ada saja masalah yang hadir,
Harus kuat.
Karena, ya, ini adalah bagian dari ujian yang diberikanNya.
Tapi, Allah udah berjanji kalau gak akan menguji hambanya melewati batas kemampuannya.

Sifat manusia itu berbeda,
Harusnya aku, kamu dan kita bisa lebih bijak dalam mengambil sikap dan berucap.
Oiya, jangan menjadi orang yang mudah untuk menyimpulkan.
Karena lebih sering kesimpulan yang kita buat (apalagi) mengenai pribadi seseorang itu selalu benar,

Misalnya, si junaedi itu aktif berorganisasi di kampus.
Dia ikut organisasi A, B, C dan lain sebagainya.
Karena itu dia di cap sebagai seorang aktivis.
Ya, kebanyakan orang awam akan menganggap seorang yang aktif di organisasi kampus sebagai aktivis.
Berbeda dengan seorang yang aktif di ikut lomba di bidang ke akademikan, capnya bukan aktivis tapi lebih sering sebagai anak yang berprestasi.
Karena apa? Karena dia berprestasi. Dia di akui.
In my opinion, pengakuan memang saat sini selalu di utamakan. Kalau sudah di akui ya mau apa lagi? Pengakuan menandakan dia bisa, tapi sayangnya aku tidak memandang sesuatu hal hanya berdasar pengakuan saja. Aku lebih melihat dari sudut pandang proses, bagaimana prosesnya yang bisa membentuknya.

Namun, bagi kalian yang membaca ini aku sarankan untuk jangan hanya menyimpulkan seperti itu saja.
Tidak semua mahasiswa yang aktif dalam organisasi kampus itu seorang aktivis (yang saya maksud disini aktivis yang selalu mengkritik sana sini, teriak-teriak, demo dan segala hal negatif lainnya) banyak juga mahasiswa yang aktif di organisasi memang untuk meningkatkan kualitas dirinya, pengalaman, skill dan menambah jaringan pertemanan juga lebih peduli terhadap sesama dan bermanfaat bagi sekitar.
Tapi, masih saja banyak yang beranggapan kalau masuk organisasi kampus auto jadi aktivis kampus apalagi organisasi eksekutif mahasiswa.

Terlalu cetek pemikiran sampah seperti itu, pikiran yang sangat mudah untuk men-generalisir sesuatu.
Tapi sampai saat ini tetap masih saja ada.
Seorang yang jika dari bicaranya luar biasa sempurna juga mengesankan mata, namun sangat tidak bijak dalam berucap dan bersikap.

Memang, kalimat bijak yang mengatakan
Tua itu pasti namun dewasa belum pasti itu benar adanya.
Pengalaman hidup dan interaksi sosial yang andil banyak untuk membentuk pribadi seseorang akan seperti apa.

Ditulis dengan suara hati yang sedikit kesal dan geram.

Share:

Sabtu, 11 Mei 2019

Belajar berbagi dari hati

Alhamdulilah bisa kembali bertemu dengan ramadan tahun ini.
Tahun kedua ramadan tidak bersama mama, bapak, mba, dan adikku.
Terasa berbeda pasti, namun harus tetap dijalani.

Tahun kedua ramadan disini sudah cukup beradaptasi.
Dari mulai harus membiasakan harus bangun sahur sendiri, sampai menyiapkan buka puasa pun harus mandiri.
Ya namanya juga merantau, tujuanku kesini pun untuk bisa jadi lebih mandiri.
Bagian dari perjuangan.

Suasana ramadan disini begitu khusyuk, tenang dan nyaman.
Setiap sore, boulevard depan kampus bak pasar dadakan.
Tempat favorit mahasiswa kampusku untuk berburu
Banyak hidangan berbuka yang disajikan dan banyak pilihan.

Ada juga masjid kampus yang sangat dermawan,
Hampir setiap hari selama ramadan menyiapkan hidangan berbuka puasa gratis bagi jamaah yang ikut kajian.
Sudah mendapat ilmu, perut pun ikut kenyang, daaann yang terpenting gratisss. Hehee

Satu ketika ada satu momen dihidupku yang cukup terpatri di memoriku.
Sore itu, menjelang waktu berbuka puasa aku mengikuti kajian di masjid kampus.
Selesai kajian hidangan buka puasa siap disajikan.

Adzan berkumandang, semuanya langsung makan sajian yang dihidangkan.
Setelah selesai makan, semua bersiap ambil wudhu untuk shalat maghrib berjamaah.
Aku melihat seorang ibu dan anaknya membawa plastik yang isinya botol plastik.
Sering aku melihatnya mencari botol plastik bekas di pagi hari,

Dan, ya, sepertinya saat itu ia baru selesai mencari plastik bekas.
Betapa kerasnya mereka mencari rizkimu yaAllah.

Sangat iba melihatnya,
Dimana ada yang tetap berjuang keras untuk bisa bertahan.
Terkadang aku ingin rasanya menyalahi diriku sendiri yang belum bisa membantu mereka.
Aku bingung ingin menyalahkan apa yang salah atau siapa yang salah dalam hal seperti ini.

Apakah ini tanggung jawab negara yang tak becus mengurusi rakyatnya hingga ketimpangan ekonomi sosial di masyarakat begitu curam,
Atau individu masyarakat yang tak peka terhdap sekitar, enggan menengok kanan kiri yang kesusahan untuk saling berbagi,

Atau ini salah Tuhan?

Tapi tidak, Tuhan selalu ada bagi mereka yang kesusahan dan tak pernah dan tak akan pernah menguji ummatnya sampai melewati batas kemampuan.
Ia datang untuk menolong siapapun yang membutuhkannya.
Ia tau, ibu dan anaknya itu sedang membutuhkannya lalu kemudia ia datang.

Iya,
Ia datang.
Namun dengan bantuan malaikat-malaikatnya.
Tak lama setelah aku melihat ibu dan anaknya itu ada seorang yang memberikan 2 bungkus nasi box kepada mereka.
Semenit kemudian seseorang memberikan dua gelas teh tarik lalu diberikannya.

Tangan Tuhan akan selalu ada dimanapun saat hambanya membutuhkan.
Percaya dan yakinlah.
Pertolongan-Nya akan selalu ada.

Share:

Selasa, 26 Maret 2019

Bercakap tanpa berucap

Sudah pagi.
04.01 WIB saat aku sedang menulis huruf demi huruf ini.
Baru saja hendak terpejam, aku kembali teringat situasi tadi.
Saat kita bertemu, saling berbagi tawa namun tak hanya berdua.

Iya, aku kembali bertemu denganmu lagi.
Ketidaksengajaan yang disengaja.
Kembali ikut di satu organisasi yang sama,
Sama saja mengulang kenangan dengan sengaja.

Resiko.
Siang tadi, selesai kelas aku lupa jika harus ada rapat.
Pelajaran selesai, kelas dibuka, yap. Langsung cabut balik kos.
Namun apadaya, temanku mengingatkan ku kalau siang ini ada rapat.

Yap, akhirnya balik badan, grak!
Ya, salahku juga sih.
Entah mengapa sejak saat itu aku sekarang jadi mudah lupa akan hal-hal kecil.
Semoga saja hanya sementara, kemudian bisa kembali seperti biasa.

Satu jam rapat,
Dua jam ikut seminar yang tidak diduga.
Alhamdulillah, dapet makan siang cuma-cuma.
Namun yang terpenting aku mendapat banyak sekali pelajaran siang itu.
Mulai dari kesadaran mengenai pentingnya data pribadi hingga cara menangkal hoax.
Woah!

Selesai seminar dan rapat dadakan.
Aku kembali bertemu hal yang tak jua berlalu.
Kenangan itu. Yang terkuak kembali setiap aku melihatmu.
Mungkin ia tak merasakan kenangan itu, tapi aku merasa.
Aku rasa semua tentangmu dahulu bisa dijadikan arsip memori dikepalaku yang urubg berlalu.

Aku dan kamu bertemu tadi, ingat? Atau pura-pura tidak ingat?
Kita berbagi tawa namun bukan berdua, melainkan bersama-sama.

Aku rindu,
Rindu mendengar suara tawamu.

Aku rindu,
Rindu berbicara denganmu tanpa ragu.

Aku rindu,
Rindu akan semua kerinduanku tentangmu.

Oh iya, ngomong-ngomong aku sepertinya tidak melihat kamu yang benar-benar kamu tadi sore.
Tadi itu bukan kamu yang aku kenal.
Tawamu bukan begitu, lekukan senyummu masih kurang sepersekian°.
Karena aku hafal betul.

Semoga kamu sedang baik-baik saja.

Share:

Sabtu, 23 Maret 2019

Percakapan Hati

Malam tadi,
Sehabis menyaksikan acara musik

Hatiku sedikit berbisik
"Juli, kamu denger gak lirik lagunya? Kamu kayanya salah deh ikutan acara ini!"
Kemudian, aku bertanya pada hatiku.
"Lha, memangnya kenapa?"
Sedetik kemudian ia menjawab
"Di bawah basah langit abu-abu, kau dimana? Di lengannya malam menuju minggu, kau dimana?"

Lho, tapikan.
Tapi, aku menikmati musik ini, lagu ini, apalagi penyanyinya. Wah, salah satu fans beratnya aku.
"Iya, iya. Tapi aku ini hatimu. Aku yang lebih tau apa yang ada di dalamnya. Kamu, kamu malah tambah memikirkannya, kan?" Kembali ia berbisik.

Aku, sedetik terdiam.
Teringat sesuatu, beberapa hari lalu.
Ya, beberapa hari lalu. Aku dengannya kembali bertemu. Hebatnya. Iya, hebatnya setelah ia sukses membuat aku patah sepatah patahnya patah.
Ia menyapaku!
Ya, seperti adegan di film-film romance atau novel-novel remaja.

Begini ceritanya.
Sore itu, aku baru selesai kelas.
Entah ada hal apa yang menuntunku, aku sejenak singgah di sekre ukm "itu". Sekitar 30 menit, cuaca mulai sedikit mendung, aku putuskan balik ke kost.
Aku keluarkan sepedaku dari parkiran dan, cabut!
Yap, baru 2 kayuh sepedaku berjalan. Aku berpapasan dengannya.

Dia menyapaku! Iya!
"Juliiii..." ku jawab "Hai, iya"
Aku masih belum sadar kalau itu dia karena parasnya ditutupi kaca helmnya.
Sejurus kemudia aku baru menyadari siapa yang menyapaku tadi.

Yap! Dia berhasil.
Berhasil menghancurkan 'istana amnesia' yang hampir kokoh terbangun.
Kembali harus ku susun dengan sisa-sisa kenangan yang menggenang.

"Tuhkan, kamu tuh salah datang ke acara ini"
Nggak, aku nggak salah. Aku cuma masih butuh aja waktu buat bisa lupa.
Ya, lupa dengan segala sesuatu tentangnya.
Lekuk senyumnya, halus suaranya dan keramahan sikapnya.

Memang, mencoba melupakan sesuatu yang teramat membekas itu sulit.
Tapi, harus.
Setidaknya aku harus bangkit untuk kembali mengejar mimpiku.

Share:

Jumat, 01 Februari 2019

Menggapai harap yang meratap

Ada banyak cinta,
Yang terpendam dalam diam.
Terkekang tak bisa berjalan,
Kemudian, membias dikeramaian.

Dari sekian banyak hati.
Nyamanku denganmu,
Meski jadi terbiasa tersakiti.
Mauku dirimu.

Namun kini,

Rasanya cukup.
Ragaku sudah tertatih,
Mencoba menggapai harap yang malah meratap.
Menolak.

Nyatanya aku rapuh,
Aku tidak sekuat itu.

Lebih baik menutup pintu,
Meninggalkan kenangan-kenangan pilu.
Lalu kemudian membuka pintu baru.

Terimakasih kamu,
Mengenalkan aku rasanya patah sepatah-patahnya patah.

Share:

Kamis, 31 Januari 2019

Terimakasih, semesta.

Pertemuan.
Suatu kejadian yang berujung kesedihan.

Perpisahan.
Hal yang dibenci dari setiap pertemuan.

Menjauh.
Yang sedang kamu lakukan, sekarang.

Banyak rasa diatas sana,
Terbang bersama asa, harapan dan impian.
Menunggu saling dipertemukan.

Aku, kamu dan cinta.
Tiga kata, ada berbagai makna.

Aku, segala ke-akuanku luluh padamu.
Melebur bersama cerita indah masa itu.
Jelas, tanpa tanya aku mencintamu,
Begitu.

kamu, hampir setiap malam mampir di anganku ketika hendak memejamkan mata.
Berharap kita dipertemukan di mimpi malam.
Kemudian dibangunkan oleh kenyataan.

Cinta, sulit untuk menyusunnya menjadi kata.
Karena memang, perihal rasa itu tidak biasa.
Aku tidak ingin mencintaimu selamanya, sebab, selamanya hanya sementara. (Elegi renjana, by stefani bella).

Terimakasih kepada pertemuan,
Sebab karenamu aku bisa mengenalnya.
Menyadari ada malaikat tanpa sayap.

Terimakasih kepada perpisahan,
Sebab karenamu aku bisa tau rasanya kehilangan.
Yang begitu dalam.

Terimakasih kepada aku, kamu dan cinta.
Sebab karenamu aku tau rasanya rasa tak dibalas oleh rasa.

Terimakasih, semesta.

Share:

Kotak memori

Kalau tidak salah,
Februari itu, menjadi awal aku jumpa dengan dia.

Terkesima dengan pembawaannya yang begitu sederhana, Hijab biasa yang ketika dipakainya menjadi nampak berbeda.
Manis senyumnya bak gulali favoritku di pasar malam pinggir kota.
Barisan kata hiperbola tak cukup rasanya, untuk mendefinisikan dia.

Aku.
Aku yang sempat enggan untuk membuka pintu hati, kembali.
Namun ia datang, yang dalam diamnya saja membuat aku terkagum.
Ini masalah hati, perasaan, cinta dan kroni-kroninya.

Diam tak berucap aku kuat, namun hati tak bisa diam dan terus beranjak.
Makin kesini semakin berontak, sebab mungkin hati ini.
Merasa,
Merasa telah menemukan bagian lain dirinya.

Berbulan bersama, hampir gila senang dibuatnya.
Bagaimana tidak.
Meskipun (masih) dalam diam, setidaknya masa itu aku begitu dekat dengannya.
Sedekat berhadapan di satu meja makan.
Meskipun tidak makan berdua, dinner seperti orang-orang itu.

Tiba di satu waktu, dimana jadi masa yang paling aku tidak suka semasa 2 dekade hidupku berjalan ini.
Tiba-tiba saja, aku dengannya.
Yang sebelumnya sedekat berhadapan di satu meja, kini.
Sekedar menyapa saja tak pernah.

Ajaib bukan?
Aku pun tak tahu mengapa, mungkin aku yang salah.
Sempat membuatnya kecewa yang teramat sangat.
Atau mungkin,
Ya memang ini skenarionya.

Ia hanya ingin menjadi pelangi sehabis hujan tiba,
Indah, namun terlalu singkat.
Atau,
Ia layaknya bintang.
Yang begitu benderang, namun terlalu sulit tuk digapai.

Aku terlalu takut untuk mengungkap,
Atau ia yang sama sekali tak berharap?

Ada benarnya juga yang dibilang ust. Fachrudin Faiz. "Kita tak takut mencintai, yang kita takuti adalah tidak dicintai balik".

Kini.

Aku berhenti sejenak,
Membiarkanmu berjalan didepanku beberapa langkah.
Tidak berdampingan.

Sepertinya kamu akan jadi satu kisah tersendiri di hidupku.
Kusimpan baik di dalam memoriku dengan kotak memori yang kuhias sebegitunya dalam ingatanku.

Terimakasih,
Pada rasa yang begitu hebat,
Namun tak sempat terucap.

Share:

Aku yang bukan Aku

Entah mengapa,
Sekarang aku senang bermain kata.
Menyusun huruf yang tak hingga.
Menyirat rasa penuh makna.

Karena mungkin dengan deretan kata,
Aku bisa menjadi aku.

Langit malam ini begitu gelap.
Tak satupun bintang bisa kulihat.
Tertutup awan pekat.
Padahal, aku sangat suka melihat bintang.

Melihat bintang,
Jadi salah satu alasanku suka mendaki gunung.
Sesampainya dipuncak, lalu malam menyapa.
Ah, rasanya seperti dekat sekali denganNya.

Sepinya suasana.
Yang terdengar hanya semilir angin sepoi,
Menelisik telinga kemudian bergesekan dengan dedaunan.
Dan, kerlip bintang dihadapan mata, begitu jelas.

Jadi rindu suasana itu.

Bicara tentang rindu,
Identik dengan sendu.
Bagaimana tidak,
Dari sekian banyak rindu hanya sedikit yang bertemu.
Sementara, rindu-rindu lainnya berujung sendu yang urung berlalu.

Aku rindu menjadi aku.
Memerankan orang dewasa ternyata tidak semenarik itu ya.

Aku rindu menjadi aku.
Saat ini kalian tidak melihat aku.

Aku sedang bersembunyi dalam kata.
Menghilang dari pandang mata,
Membias dengan sengaja,
Memainkan peran pura-pura,
Untuk bisa diterima.

Aku rindu menjadi aku.
Sungguh.

Share: